Pura Parahyangan Agung Jagatkartta
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta adalah tempat ibadah umat Hindu di Kabupaten Bogor. Banyak masayarakat juga menyebutnya dengan Pura Gunung Salak, karena letaknya yang berdadi di kaku Gunung Salak.
Secara adminitratif oleh pengurus Yayasan, bahwa nama yang benar adalah Parahyangan Agung Jagatkartta. Sebaiknya tidak menambahakan kata Pura di depannya. Hal ini disebabkan karena kata parahyangan sendiri mempunya persamaan dengan kata Pura.
Letak Pura Parahyangan Agung Jagatkartta ini adalah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak dari Jakarta ke Pura kurang lebih 70 km. Rata - rata waktu perjalanan dengan kendaraan dari ibukota Jakarta sekitar 2 - 3 jam.
Arti Nama Parahyangan Agung Jagatkartta
Setelah mulai terbentuk beberapa tempat suci (pelinggih) yang telah dibangun disepakati dengan nama Parahyangan Agung Jagatkartta. Sesungguhnya arti nama Parahyangan ini sama dengan Pura. Oleh sebab itu kepengurusan memberikan informasi bahwa tidak perlu menambahkan kata Pura di depannya.
Hal ini mengingat secara sejarah berdirinya tempat suci di tanah Jawa Barat, menggunakan kata Parahyangan. Kata parahyangan sudah cukup menjelaskan tempat suci para dewa. Namun kenyataannya banyak umat yang selalu menyebutnya dengan kata Pura Parahyangan Agung Jagatkartta.
Nama Jagatkartta, mengambil dari philosofi alam terbentuknya alam semesta. Saat Ida Sang Hyang Widhi Wasa menciptakan alam semesta serta menurunkana jaran Sang Hyang Catur Veda, bergelar sebagai Sang Hyang Jagatkartta.
Sesungguhnya sebutan lengkap parahyangan ini adalah PARAHYANGAN AGUNG JAGATKARTTA TAMAN SARI GUNUNG SALAK. Taman Sari ini adalah sebuah desa dan sekaligus menjadi kecamatan di lereng Gunung Salak.
Kawasan Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Pintu Masuk Parahyangan
Alternatif lainnya masuk ke area Parahyangan yang agak landai, adalah melalui pintu masuk jalan yang menuju pintu belakang (area dapur basement)
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta yang cukup luas tediri dari beberapa pelinggih, ditambah pura Taman Sari dan Pura Melanting. Kami tidak
Kawasan Parahyangan Agung Jagatkartta ini mempunyai konsep tri mandala yang lengkap, yaitu nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Juga dilengkapi dengan beberapa area lainnya seperti Wantilan, Pasraman, Pesandekan Sulinggih, Kamar Mandi serta area parkir yang luas.
Sebelum melaksanakan persembahyangan di Mandala Utama, biasanya umat melakukan persembahyangan di beberapa Pelinggih atau Pura lainnya. Atau mungkin saja di Pura Taman Sari dan Pura Melanting lebih dulu, setelah ke mandala utama.
Sampai sejauh ini tidak urutan yang pasti saat melaksanakan Persembahyangan di Parahyangan Agung Jagatkartta, pura atau pelinggih mana yang lebih dahulu. Gambar Layout Pura Gunung Salak menjelaskan bangunan yang ada di area sekitarnya.
Mandala Utama
Area Mandala Utama Parahyangan Agung Jagatkartta ini adalah yang paling utama. Tempat ini merupakan tempat beberapa pelinggih utama. Di dalam Mandala Utama juga terdapat Petilasan (Pelinggih) Prabu Siliwangi.
Sebagai tempat yang suci, area mandala utama ini tentu harus dijaga kebersihannya, baik fisik dan kebersihan jiwa. Untuk umat yang ingin bersembahyang sebaiknya tidak dalam “cuntaka”.
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta terbuka untuk umat Hindu dari mana saja. Sering sekali umat Hindu dari beberapa daerah Nusantara datang untuk bersembahyang. Pura dapat dijangkau dengan mobil bahkan bis.
Disamping itu selain umat Hindu, sering juda digunakan untuk persembahyangan umat yang bukan Hindu. Tentunya ketentuannya sama juga dengan anjuran untuk menjaga kebersihan seperti di atas. Dan juga menjaga kesantunan dalam berbusana.
Biasanya bagi yang tidak menggunakan busana persembahyangan, paling tidak menggunakan “senteng” (selendang) ketika masuk di area mandala utama

Pelinggih Ganesha

Pelinggih Dalem Ped

Pura Taman Sari

Layout Pura Parahyangn Agung Jagatkartta
Pura Parahyangan Agung Jagatkartta cukup luas, sehingga penting mengetahuinya ketika sedang berada disana. Selain bangunan Tri Mandala Pura, juga terdapat beberbapa bangunan lainnya.


